Archive for the Category ◊ Trip to US ◊

10 Dec 2008 Trip to USA: San Diego – Day 2

Hari kedua di San Diego (Selasa 9 Desember 2008) diawali dengan “bangun” pagi yang cukup semangat pukul 6:30 (terlambat 30 menit dari jadwal yang telah di-alarm-kan, karena malas). Supaya mempunyai energi yang cukup, maka saya dan Anvid membeli sarapan di hotel dengan porsi lumayan banyak. Omelet with bacon + 2 cangkir kopi pahit. Kopinya lumayan enak, sayang omeletnya biasa2 saja.

Pukul 8:30 lebih dikit kami mulai jalan ke Qualcomm building R yang berlokasi di McKellar Court. Di lihat di peta, sepertinya tidak terlalu jauh sehingga kami memutuskan untuk jalan kaki saja meskipun sempat nyasar.

Di Qualcomm, kami ternyata sudah di tunggu oleh Jess Dominguezz (entah karena cemas kami nyasar atau karena kami sudah telat, Jess sudah menunggu di depan front office). Sesuai schedule kami dengan Qualcomm yang sudah diarrange via email sebelumnya, memang hari ini  Jess akan memberi kami briefing singkat tentang Brew dan Brew Mobile Platform. Presentasinya cukup menarik. Di tengah2 presentasi, bergabung dengan kami Jason Rinn, yang besok sampai hari Jumat akan menjadi guru Brew kami.

Jess memilik wajah mirip dengan Clark Kent alias Superman, tetapi tampak lebih tirus khas meksiko. Mungkin kalau Meksiko merelease film Superman mereka sendiri, saya rasa Jess cocok menjadi tokoh utamanya. Sementara si Jason lebih terkesan sebagai seorang Geek (as expected). Dia terlihat sangat menguasai Brew sampai detail teknikalnya. Kedua orang ini sangat ramah dan humoris. Tidak ada ketegangan dan pressure selama acara kami di Qualcomm hari ini. Sangat rileks dan informatif.

Briefing oleh Jess selesai sampai kira2 jam 11.00 waktu San Diego. Selanjutnya, dengan nebeng mobil Jess kami ke Qualcomm building N dan T di jalan Morehouse Drive. Double pegal2 kalau jalan kaki lagi. Dengan mobil kami sampai ke gedung N yang juga sebagai pusat dari Qualcomm dalam waktu kurang dari 10 menit. Kami diajak berkeliling area gedung oleh Jess. Sebenarnya ada satu tempat yang menurut saya sangat bagus buat diambil foto, namanya “Patents Wall” di mana di sana ditempelkan berbagai penemuan Qualcomm (baik hasil riset sendiri maupun aquisisi dari pihak lain) yang telah dipatenkan. Sekilas, mungkin ada ratusan patents ada di sana. Setelah selesai berputar2, Jess meninggalkan kami di ruang conference dan training di gedung T. Di sana kami akan bertemu sekali lagi dengan Jason sekaligus untuk melihat sekilas kondisi ruang kelas yang akan kami pakai. Jason memberikan sedikit preview tentang materi untuk 4 hari kedepan sebentar sampai akhirnya kami harus cabut karena kami ada janji makan siang dengan personnel Qualcomm lain yang bernama Sanjeet.

Bersama tutor Brew, Jason Rinn

Bersama tutor Brew, Jason Rinn

Sempat kami dikagetkan oleh suara deru pesawat tempur yang ternyata US Marine base terletak sangat dekat dari sini, tepatnya di Marimar. Kami melewatinya ketika melakukan perjalanan menggunakan bus ke downtown. Saya tidak tahu apakah itu pesawat F-18 yang sama dengan yang diberitakan Fox News yang jatuh di perumahan dekat dengan lokasi kami (di hari yang sama, jamnya mungkin berdekatan).

Di Cafetaria Qualcomm yang sangat besar, yang terletak bersebelahan antara gedung T dan N, kami bertemu dengan Sanjeet dan temannya (saya lupa namanya). Sanjeet mau minta waktu kami selama kami di SanDiego untuk bertemu dengan tim teknikal di belakang BMP (Brew Mobile Platform). Sepertinya kalau hari ini juga, dia tidak bisa maka kami akan meminta waktu ke Jason supaya jumat kami bisa bertemu dengan tim BMP juga. Ternyata Sanjeet orangnya amat sangat jenaka sekali. Dia lumayan mahir berbahasa Indonesia, setelah ditanya Anvid di mana dia belajar basa Indonesia dia mengaku kalau dia orang Pasar Baru, Mumbay Textile.. begitu katanya. Walah, ternyata.. dia India yang jualan kain di Pasar Baru toh.. weleh weleh weleh..

Acara di Qualcomm hari itu pun selesai dan sesuai rencana kemarin kami mau downtown siang ini setelah makan siang. Kami mampir di “Fine Mexico Food” untuk lunch. Sekedar coba2 dan memilih secara random sih. Kami memilih menu “2 chickens tacos” masing2 plus susu untuk saya (sehat bener yah minumnya) dan coke untuk Anvid. Sizenya seperti biasa amat sangat besar sekali dan ciri makanan Amerika yang agak eneg dan penuh lemak (makanya mayoritas penduduk Amerika mempunyai masalah dengan overweight).

Untuk ke downtown, kami memilih naik bus (route nomor 921) menuju Black Mountain Road kemudian pindah ke halte yang menuju selatan dan melanjutkan menggunakan bus route nomor 20 berhenti di 10th Avenue (downtown). Harga tiket one way adalah US$ 2.25 dan kita bisa membeli tiket untuk satu hari (bisa dipakai ke banyak jurusan asal dalam hari yang sama) seharga US$ 5. Langsung di sana kami berputar2. Selama di dalam bus saya memperhatikan kalau penumpang bus ini kebanyakan adalah masyarakat menengah ke bawah terutama untuk bus ke arah downtown. Tampak dari pakaian seragam yang mereka pakai, cara berpakaian dan juga cara bicara. Selain itu juga banyak imigran dari filipina dan asia lainnya. Hal ini sangat bertentang dengan orang2 yang berhubungan dengan kami di daerah kami tinggal selama di sini (kami lebih senang menyebutnya Qualcomm Town daripada San Diego, karena gedung2 Qualcomm menyebar di seluruh daerah kecil ini yang merupakan bagian dari San Diego – bahkan sempat memberi ide supaya salah satu jalan diberi nama “Brew Boulevard”). Mereka sangat “the have” sekali, pakaian bagus, mobil ber-cc besar, manner dan cara bicara yang sangat terpelajar.

Orang2 di San Diego bisa dikatakan sangat ramah (walaupun beberapa ada yang aneh). Terutama yang cukup membuat kami terkesan adalah attitude mereka dalam mengemudi yang jauh lebih bagus daripada yang saya alami waktu di Singapura.

Trolley MTS khas San Diego

Bangunan berarsitektur tua di San Diego

Sudut2 downtown San Diego

Sampai di Downtown saya dan Anvid (terutama Anvid – apabila nemu daerah seperti ini, yang benar2 perlu dipotret bersama dengan suasananya, seakan2 pocket camera tdk berguna :( ) sibuk memotret beberapa daerah. Mulai dari berbagai gedung dengan arsitektur yang unik (beberapa bisa dikatakan berarsitektur tua), Trolley dan Bus MTS khas San Diego, Sampai gedung2 modern.

Lumayan lama waktu yang kami habiskan muter2 di downtown San Diego. Kami juga sempat mampir di Romantix untuk membeli beberapa stuff untuk permainan saya dan istri (he he he, dari namanya bisa ditebak ini toko apa kan?), Sport Palace (saya membeli beberapa pakaian olah raga baseball – favorit masyarakat San Diego – bertuliskan logo club setempat dan sepasang bat + bola untuk hiasan kamar anak pertama saya) serta beberapa toko barang2 menarik lainnya yang akhirnya kami tidak beli juga (karena barangnya tidak menarik atau karena harganya melebihi budget kami).

Di Sport Palace kami di bantu oleh pelayan yang tinggi besar bernama Jhon. Dia adalah keturunan Irak yang sudah 27 tahun tinggal di sana. Dia tidak mau dikatakan sebagai orang Irak lagi sekarang .. “I am American”.. kata dia mengkonfirmasi :) Jhon membantu kami mencari souvenir yang berbau baseball dan San Diego dengan gaya slengekan khas American baseball nya.

Menjelang malam kami berpose sebentar di depan stadium kebanggaan orang San Diego yang bernama Petco Park. Lumayan ok, sayang waktu kami sampai sudah mau ditutup.

Semakin malam suasan San Diego semakin menyenangkan dan indah.Kami juga tidak lupa untuk mampir di Gaslamp, pusat belanja dan makanan (lebih tepatnya sebagai pusat nongkrong) San Diego. Gaslamp quarter adalah tempat yang sangat cozy buat nongkrong. Wanita2 yang cantik bertebaran di sana :) Beberapa cafe dan restoran mewah tampil dengan gaya interior yang unik dan cozy, begitu juga pelayannya yang terlihat sangat profesional. Begitu juga tamu2nya, beberapa wanita tampil sangat cantik tetapi berkelas (duh, napa wanita mulu yah yang dilihat .. maaf, saya masih tertarik melihat wanita daripada pria).

Tempat makan dengan pelayan ber-under wear saja

Tempat makan dengan pelayan ber-under wear saja

Karena kecapekan kami istirahat di taman seberang San Diego Convention Center. Cukup bagus.. dan enak buat nongkrong.

Tidak terasa malam sudah semakin larut dan kaki kami juga sudah pegal. Akhirnya kami memutuskan untuk makan di Horton Plaza. Ramai juga Plaza ini. Sempat mampir ke toko buku untuk membeli Scrabble buat istri (karena udah lama pengen punya, kebetulan harganya sama dengan di Indonesia tapi lebih bagus) dan beberapa oleh2. Desain Horton Plaza memiliki tangga yang sangat banyak dan tidak beraturan, jadi kami sering mencari-cari di mana tangga untuk turun atau naik. Menurut Anvid, Plaza ini merupakan bangunan lama yang bersejarah. Suasana Natal terasa sekali di sini, tapi sepertinya diskon Natal belum di mulai. Santa Klaus juga sudah membuka dagangannya di Plaza ini. Sebenarnya pengen berfoto sama Santa, tapi saya takut dia tidak mau memangku saya.

Setelah dari Horton Plaza kami memutuskan untuk pulang karena sudah pegal. Rencana untuk ke Harbour terpaksa kami undur di hari Sabtu.

Sebenarnya masih banyak cerita dan foto, tapi capek juga nulis & menguploadnya :)

Tips.

1. Di San Diego yang namanya taksi kadang susah dicari. Begitu melihat tempat berkumpulnya taksi, selalu ingat2 di mana itu dan begitu butuh tempat itulah yang harus segera anda tuju. Kalau anda beruntung, di perjalanan ke sana bisa dapat taksi terlebih dahulu.

2. Di daerah kami tinggal, sekitar Mira Mesa Boulevard dan Pacific Heights, hanya sedikit orang yang tahu informasi tentang Bus MTS (schedule, harga, dll). Datangi aja halte bus terdekat, berupa kursi panjang untuk 4 orang biasanya, di sana tertempel semua informasi yang dibutuhkan. Hanya saja di sana tidak ada informasi Halte ini ke arah mana (untuk jalan 2 arah). Misalnya di Halte Black Mountain Road, kami mau ke selatan, maka kami harus pindah ke Halte lain. Kalau ragu, sebaiknya tanya sebelum masuk ke Bus atau ke orang yang terpercaya di sekitarnya.

3. Minta peta ke Hotel. Harus ini …

4. Untuk membeli barang, bandingkan harganya dengan harga barang yang sama dalam mata uang Rupiah di Indonesia. Pastikan sama atau lebih murah. Kecuali anda orang yang sangat berkecukupan. Kalau lebih mahal, pikir ulang apakah worthed untuk membelinya.

5. Ketika membeli pakaian (sepatu, kaos, dll), lihat dulu dibuat di mana pakaian itu terutama untuk merk Nike. Karena ada beberapa pakaian ternyata made in Indonesia. Kalau seperti itu, mending beli di Indonesia aja deh, lebih murah.

@Terima kasih banyak ke Anvid untuk foto2nya. Jagolah motretnya, ntar pinjemin kamera SLR nya lagi yah.

07 Dec 2008 Trip to USA: San Diego – Day 1

Buru2 makan terus jalan2 keluar.

Today, bangun siang habis2an. Bangun kira2 jam 2:30 pm. Dibangunin Anvid karena kami janjian mau jalan2 muter2 cari lokasi2 strategis tujuan kami besok, antara lain Qualcomm di Morehouse Drive, McKellar Court, super market (gak bawa sisir nih.. :p), tempat makan yang standar (dengan harga agak miring tapi banyak.. walah, anak kos banget nih) dan tempat2 menarik. Rupanya di San Diego daerah kami menginap tidak terlalu banyak tempat hiburan dan senang2. Jadi untuk hiburan kami mesti ke down town San Diego.

Jam 3:30 pm, kami langsung cabut berencana mencari makan di luar. Suhu di luar waktu itu berkisar di 15 derajat celcius. Lumayan dingin, tetapi semakin membuat kami bersemangat dalam kelaparan untuk jalan2 di tempat baru ini. Setelah puter sana puter sini, ternyata hari minggu banyak toko yang tutup di sore hari.

Lime-Chix Quesadilla yang dah mau habis.

Lime-Chix Quesadilla yang dah mau habis.

Setelah beberapa lama, ditambah kondisi langit yang mulai gelap dan mendung kami memutuskan balik ke Hotel. Saya harus makan.. Saya harus makan .. Saya harus makan .. begitulah kira2 suara yang berdengung di kepala hasil terjemahan sinyal2 syaraf dari perut ke otak saya. Akhirnya sampai di restoran hotel, kami dilayani Jon (saya baca di tag name dia), si bartender yang baik hati dan murah senyum. Ternyata jam segitu sudah masuk dinner. “I haven’t had breakfast yet, and you offer me dinner..” gerutu saya. Si Jon hanya tertawa dan kami mulai ngobrol tentang betapa capeknya saya sampai bangun kesorean (bukan kesiangan lagi).

Saya memesan 1 Lime-Chix Quesadilla dan 2 buah Coke pake refill (1 coke untuk Anvid dan Anvid tidak makan). Lumayan murah, hanya US$ 16.16. Porsinya sangat banyak, jadi mesti dibantu Anvid untuk menghabiskannya. Chix Quesadilla + 2 gelas besar coke membuat saya lumayan merasa kekenyangan.

Nongkrong di Plaza Sorrento

Tempat pemberhentian Bus yang entah kapan bus nya datang.

Kami melanjutkan acara mencari jalan lagi. Tetapi kami merasa sudah tahu jalan2 menuju area “pekerjaan” kami, jadi kami tidak mencarinya. Kami mencari food court, super market dan atau mall. Kami lebih senang ke Plaza Sorrento daripada Mira Sorrento Plaza karena Plaza Sorrento lebih jauh :) . Jarak yang kami tempuh kurang lebih 3 – 4 km (meskipun menurut GPS adalah 4,22 km). Kami berjalan kaki karena tidak ada taxi dan bus (meskipun ada tempat pemberhentian bus), mungkin karena schedulenya memang saat itu tidak ada bus. Kami sudah siap dengan kondisi itu, hampir semua orang yang kami tanya mengenai daerah itu selalu mengatakan bahwa bus atau taxi susah didapat, dianjurkan menyewa mobil. Sempat Anvid bercerita bahwa kemarin dia sempat berjalan-jalan melihat sekitar ketika saya tertidur. Dia sempat mendengar suara berderik dan suara bergeser di tanaman2 perdu di pinggir trotoar jalan. Dia merasa itu pasti ular.. Damn.. ngeri saya mendengarnya. Saya tidak tahu apakah di sini daerah ber-ular atau bukan, tapi saya sering dengar tentang ular Derik yang sangat berbisa. Apa sebaiknya saya benar2 sewa mobil yah ..

Kami juga sempat diteriakin oleh salah satu pengemudi yang baik hati karena syall saya terjatuh sewaktu menyeberang. Si pengemudi datang dengan mobil ber-cc besarnya yang menderu, kemudian meng-klakson berkali-kali. Saya penasaran ada apa, jadi saya mendekat. Si bule membuka jendela sebelah kanan dan berteriak “On the ground..”. Wiks.. kayak di film kalau di todong pak pulisi suruh tiarap gitu. Tapi dia kan gak lagi nodong, jadi saya rasa saya gak disuruh tiarap.. :) Setelah saya lihat di tempat penyeberangan, ternyata syall saya jatuh. “Thank you.. ” jawab saya sok manis.

Sedang nongkrong di Plaza Sorrento, ngopi.

Sedang nongkrong di Plaza Sorrento, ngopi.

Di Plaza Sorrento kami berhenti untuk minum kopi – sebenarnya hanya Anvid yang minum kopi, saya setelah makan Chix Qusadilla itu merasa ada yang salah dengan perut, adaptasi sepertinya, jadi saya tidak makan dan minum dulu. Kira2 1 jam kami ngobrol sambil (Anvid) menikmati kopinya dan potret sana potret sini. Sebelum kami pulang ke hotel, kami mampir ke KFC untuk membeli bekal makan malam kami. Lumayan besar porsi yang kami beli hari itu (KFC Big Box Meal). 1 porsi cukup buat 2 orang (tepatnya 1,5 orang.. karena saya sudah kenyang dengan makan sore saya). Selain itu kami juga membeli 1 drum… ehm.. tepatnya 1 jerigen (jerigennya gemuk tapi pendek, mirip drum dengan pegangan) susu. Stok yang cukup buat semalam :)

Jalannya sepi banget, compared to Jakarta

Jalannya sepi banget, compared to Jakarta

Sekedar tips, kalau kita mau menyeberang jalan, meskipun sudah memencet tombol lampu penyeberangan, pastikan melangkah dengan cukup cepat. 3- 4 tps (sTeps Per Seconds) tidak cukup untuk sampai ke seberang sebelum lampu tanda merah larang menyeberang menyala, apalagi kalau menyeberangi jalan yang lumayan lebar seperti Mira Mesa Boulevard.

Selain itu, kalau ke sini di bulan Desember awal seperti saya selalu siapkan double sweater untuk dipakai jalan. Mungkin jaket juga bisa, tapi terkesan terlalu serius. Saya (mendapatkan tips dari istri tersayang) menggunakan 1 kaos dalam, 1 kaos biasa, 1 sweater berkain halus dan 1 sweater berkain kasar (urutan dari dalam keluar). Untuk celana saya rasa jeans saja cukup. Will be nice kalau ada syall buat menutupi leher yang gampang merasa dingin.

Lobby hotel Woodfin tidak luas tapi cozy

Lobby hotel Woodfin tidak luas tapi cozy

Tentang hotel Woodfin Suites, bisa saya kasih rating 4 antara 1 – 5. Bentar.. 3,5 deh kayaknya.. karena hotelnya lumayan murah dengan service yang cukup OK. Internet broadband yang dicharge daily, restoran yang lumayan bagus, room yang nyaman, dan lain2 (kalau mengingat pengalaman burukdengan hotel di Singapura waktu ikut Communicasia kemarin.. ini sih jauh lebih baik banget). Boleh dicoba kalau kesini.

.

.

.

.

Good night.

06 Dec 2008 Trip to USA: Jakarta – LA – San Diego

Pagi hari kemarin, jam 4 pagi jalan dari rumah. Sangat pagi buat saya, karena untuk re-check persiapan perjalanan saya dan lain2, nyaris saya hanya tidur 2 jam kurang. Tetapi saya sangat excited dan sudah rindu sama anak2 dan istri di rumah. Seandainya bisa mengajak mereka juga.

Dari rumah ke Cengkareng hanya makan waktu 1,5 jam. Langsung ketemu Anvid di terminal keberangkatan internasional. Sebenarnya ingin sarapan pagi dulu di McD terminal internasional ternyata masih tutup. Kami langsung check in dan ngantri untuk boarding.

Sebelum checkin akan ada petugas yang memeriksa bukti pembayaran Fiskal dan Passport. Jadi sebelum ke petugas tersebut, pastikan mampir di booth BUKOPIN untuk membayar Fiskal di sana. Rp. 1 juta untuk keluar negeri via udara. Mudah2an tahun depan sudah tidak bayar lagi untuk pemilik NPWP :)

Oh iya, jangan pernah membawa air lebih dari 100 ml ke dalam boarding room karena akan diambil oleh petugas bandara. Tadi pagi sempat dibawain air minum vitamin C fresh dari lemari es (kalau tidak salah ukurannya 250 ml) akibatnya pagi2 saya harus menghabiskan minuman dingin itu. Terpaksa nongkrong dulu di luar boarding room sambil install beberapa aplikasi Brew yang diperlukan untuk trainning di US nanti. No worried dengan licensed software di PC. Thanks to Pak Bagus yang mau repot2 membantu saya mengurus license2 software di laptop saya, terutama OS Windowsnya.

Kami pergi menggunakan China Airlines (dengan pesawat Airbus, entah tipe yang mana) pagi itu. Semua boarding pas pesawat dari Jakarta sampai San Diego di cetak di Cengkareng oleh petugas China Airlines. Sebagian besar penumpang berbahasa cina dan sepertinya merea memang bertujuan ke Hongkong atau Taiwan. Jam 06.05 kami boarding dan tidak lama kemudian pesawat kami berangkat menuju Hongkong.

Jam 11:30 an waktu Jakarta (jam masih menggunakan waktu Jakarta nih) kami sampai di Hongkong. Di Hongkong kami hanya transit sebentar (kurang lebih 1 jam) padahal kami ingin jalan2 lebih lama di sini. Kami masih sangat fit dan happy. Hongkong dari udara terlihat “cakep”. Airport bersebelahan dengan pantai dan kotanya cukup megah dan teratur. Ketika kami mau masuk ruang boarding, seperti di Indonesia, kami juga perlu melewati pemeriksaan oleh petugas setempat. Selalu siapkan paspor dan tiket setempat ke tujuan berikutnya. Di ruang pemeriksaan, saya sempat diserobot oleh TKW dari Indonesia :) Jujur aja karena ulahnya, saya jadi malu ke petugas pemeriksa di sana … dalam hati saya berkata “maaf om, dia mah babu makanya attitudenya asal serobot gitu”. Duh..

Sejam kemudian kami dah terbang lagi menuju Taipei – Taiwan menggunakan pesawat yang sama dengan yang kami naiki dari Jakarta dan juga masih dengan nomor tempat duduk yang sama dengan yang sebelumnya. Perjalanan tidak lama, kira2 1 jam. Airport Taipei terkesan dingin, kaku dan sepi. Desain lorong2 serasa mirip Juanda – Surabaya (lantai, kaca, dan tembok2nya) tetapi jauh lebih besar dan sepi. Sempat bertemu dengan seorang ibu dari Jakarta yang terlihat kecil dan terburu2. Dia sendiri saja. Saya samperin dah say hi sebentar. Ternyata dia juga mau ke LA. Dia sudah sering melakukan perjalanan Indonesia – US sendirian berkali-kali, tanpa teman. Saya tidak bertanya tentang keperluan dia di LA, tidak mau terlalu turut campur tentang kehidupan dia, meskipun sebenarnya saya selalu pengen ngobrol dengan banyak orang saat itu.

Di Taiwan, kami hanya berhenti 1 – 2 jam saja dan langsung menlanjutkan perjalanan kami ke Los Angeles (LA). Kali ini kami menggunakan pesawat dengan nomor badan yang berbeda, masih menggunakan Airbus tetapi kali ini tipe pesawat yang jauh lebih besar (masih sama, saya tidak tahu tipe pesawatnya). Perjalanan ke LA ditempuh dalam waktu 11 – 13 jam. Amat sangat panjang dan membosankan, selain itu posisi tempat duduk terasa lebih sempit. Berkali2 saya lihat panduan GPS di sandaran kursi depan saya, posisi pesawat masih saja di atas samudra pasifik. Kira2 ETA kurang dari 3 jam, saya jatuh tertidur sampai saya mendengar pramugari berteriak-teriak menanyakan apakah kami US Citizen. Saya jawab bukan dan saya menerima form yang dikenal dengan form I-94. Saya sebenarnya sudah menunggu pembagian form ini karena sebelum keberangkatan saya membaca salah satu blog yang menceritakan tentang form ini. Form ini harus diisi lengkap selengkap2nya.  Selain itu ada form lain yang menanyakan apakah anda membawa tanaman, hewan, atau apakah anda sebelum kesini pernah ber-”sentuhan” dengan livestock (dan belum cuci tangan?).. dan seterusnya. Selain itu anda juga ditanya apakah membawa barang dan uang senilai lebih dari US$ 100.000 (atau US$ 10.000? agak lupa nih). Hmmm.. cash saya bahkan kurang dari US$ 1.000 saat itu. Yang tentu saja juga harus anda isikan adalah no Paspor, dari mana anda berasal sebelum masuk ke US dan pesawat penerbangan yang anda pakai.

Jam 12 siang waktu setempat, saya sampai di LA. Very big airport tapi sangat standar keindahannya. Seperti dugaan saya setelah ketemu dengan petugas imigrasi di pemeriksaan pertama, saya dan teman saya di bawa ke ruang pemeriksaan lain yang berkesan lebih “intensif”. Di sana kami harus antri lama. Kira2 45 menit, nama saya dipanggil. Saya akan diinterview oleh pria keturunan meksiko berseragam imigrasi. Dia menanyakan form NSeer (mudah2an tidak salah penulisannya) yang ternyata saya tidak punya. Dia bilang seharusnya petugas di depan memberikannya ke saya dan saya harus mengisinya sebelum bertemu dia. “She didn’t give me anything.. “, jawab saya. Akhirnya dia ke depan mengambilkan saya form itu. Saya sekalian memintakan buat Anvid. Dia tampak sewot karena harus bolak-balik ke depan lagi.”Sori om..”, batin saya. Sempat petugas dari China Airlines memanggil kami karena kami belum mengambil tas kami di bagasi. Akhirnya tas di letakkan di depan (mudah2an tidak ilang..)

Karena form itu belum lengkap, terpaksa saya harus mengantri lagi. Total mengantri sampai benar2 diproses kurang lebih 1,5 jam. Benar2 bikin capek. Kemudian saya dipanggil oleh petugas yang berbeda dan dia mengajak saya keluar dari ruangan. Dia menginterview saya dari booth yang di depan tempat pemeriksaan saya pertama saya. Dia bilang di ruangan terlalu penuh dan saya akan antri lama di sana.

Sepertinya semua petugas di sana dilatih untuk menginterview dengan tegas, serius dan jujur saja agak tidak ramah/menyenangkan. Meskipun tidak sampai membuat emosi sih. Lucky me, petugas yang memeriksa saya cukup humoris dan menyenangkan. Pemeriksaan memerlukan waktu 30 menit – 1 jam, dan selalu dipenuhi dengan joke :) Pemeriksaan standar saja, karena di semua “bad” list mereka tidak ada nama saya. Di akhiri dengan “sumpah” bahwa data saya benar. Ternyata Anvid lebih cepat dari saya dan dia sudah menunggu di tempat pengambilan bagasi.

Selanjutnya, kami pindah ke terminal 4 karena kami harus pindah maskapai ke American Airlines. Terminal 4 terlihat lebih kumuh dan kacau. Bahkan bisa dikatakan lebih bagus Cengkareng. Bagasi kami berikan ke Officer yang bertugas di sana untuk diproses dan kami segera checkin. Anvid sempat kelaparan dan mengajak saya mencari food court. Tetapi di sana sulit sekali mencari food court, sampai kami diberitahu oleh petugas di sana bahwa ada foodcourt di area setelah saya checkin alias boarding room (bukan room sih, tapi area.. karena luas banget).

Untuk menuju ruang boarding, kita harus melewati ruangan yang lumayan ketat:

Pertama pemeriksaan ID dan tiket. Yang memeriksa seorang cewek berkulit hitam, pendek, luar biasa gemuk, bibir tebal dan rambut dikelabang ala negro (kalau di film, tipe seperti dia biasanya jadi korban pelecehan seksual he he he.. maaf mbak, guyon lho..). Dia selalu teriak2 dengan kencang dan cara ngomong yang agak selengekan. Ketika Anvid sampai di depan dia dan lupa belum menyiapkan Passpor, seolah Anvid tidak ada dia berteriak ke kami yang beberapa langkah di belakang Anvid “I said ‘ID and boarding pass’…. your passport is your ID..”. Damn.. napa mesti sebegitunya sih.. anjrit nih cewek, kan kebetulan Anvid gak denger tadi.. habis 24 jam penerbangan gitu lho, kan capek banget.

Kedua, pemeriksaan barang bawaan lewat Sinar X. Semua orang di sana harus melepas jacket sampai sepatunya. Agak geli saya melihat mereka pada terburu-buru melepas jacket dan sepatu, melewati scanner, kemudia terburu-buru lagi memakainya. Untung tidak disuruh melepas celana dan baju juga .. he he he (I know you think that I think about it). Laptop tidak boleh di dalam tas, tetapi harus dikeluarkan dan ditaruh di box yang sudah disediakan. Begitu juga dengan ikat pinggang. Petugas akan menyuruh kita balik lagi keluar kalau alarm sensor logam berbunyi. Mereka tidak mau repot2 menggeledah. Pokoknya bunyi petugas (saat itu seorang nenek2 kulit hitam, rambut penuh uban.. yang saya pikir nih orang pasti neneknya petugas cewek tadi – benar2 seperti di film deh) akan menyuruh kita keluar lagi dan taruh barang yang bikin bunyi di Box terus masukin ke penindai sinar X. Menjengkelkan sekali. Setelah melewati sensor logam, kami harus terburu-buru memakai sepatu, jacket, memasukkan laptop dan yang bikin agak lama adalah memakai ikat pinggang. Semua orang melakukannya .. dan .. bikin geli sih.

Kami nongkrong dulu di starbuck untuk mengisi perut dengan Muffin big size dan teh panas yang juga big size. Selanjutnya kami pindah ke gate 44F menggunakan bus (lumayan jauh sih). Kira2 jam2 6:30 kami masuk pesawat American Airline yang kecil dan sempit (seluas bus, dengan 2 row kursi di sebelah kiri dan 1 row di sebelah kanan) yang akan membawa kami ke San Diego. Di pesawat saya langsung jatuh tertidur saking capeknya. Ketika di atas San Diego, saya terbangung dan mendapati betapa San Diego sangat bagus dari udara di malam hari. Sayang Anvid menaruh kamera SLR nya di atas, menggunakan kamera pocket saya tidak bisa menangkap panoramanya.

.

.

.

Kira2 jam 7:30 kami keluar dari Airport San Diego dan menunggu taksi. Di Airport San Diego kami bertemu dengan kira2 6 orang pemuda dari Indonesia. Mereka kerja di kapal pesiar. Salah satu dari mereka belum menemukan tasnya yang mungkin terbawa oleh pesawat ke San Diego berikutnya (dari LAX juga). Selain mereka ada juga cewek bule, berdada besar dan agak “terbuka” juga belum mendapatkan tasnya. Saya kira tas saya juga akan nyusul, tetapi ternyata malah sudah di sana sebelum saya nyampe. Tapi saya tidak tahu kalau nama saya sudah dipanggil (karena keterbatasan jumlah karakter yang bisa dimasukkan, di tag bag saya tertulis nama saya FRANCIS dan PAWITR).

Dari Airport sampai Hotel Woodfin Suite, kami harus membayar US$ 45. Lumayan jauh. Untung hotelnya cukup enak, sehingga capek hari itu bisa terbayar. Setelah makan malam, mandi saya langsung tertidur dari jam 10 malam sampai jam 2:30 keesokannya. Sempat terbangun karena ada cleaning service yang masuk :p Sebenarnya dia sudah mengetuk pintu, tapi karena masih capek.. saya malas untuk membukanya.

Good night world :)