Sekarang sudah hari kedua-setengah di Ulan Bator, Mongolia. Kota yang tidak terlalu besar tetapi lampunya indah di malam hari ketika saya lihat dari lt 12 hotel saya.
Selama di sini suhu udara di awal bulan April sekitar -8 sampai dengan 12 derajat celcius. Untung ketika siang hari di mana saya banyak berjalan kaki di jalanan, suku berkisar antara 1 – 8 derajat, jadi tidak terlalu dingin.
Seperti yang sudah saya duga sebelumnya, orang mongolia sangat jarang yang menguasai bahasa inggris. Tetapi presentasi saya 2 hari ini lumayan lancar, meskipun sempat terpikir saya akan mengalami masalah bahasa dengan mereka. Memang ada masalah bahasa tetapi tidak significant.
Soal bahasa ini sangat terasa ketika saya harus makan siang atau malam tanpa ditemani oleh teman2 saya dari Mongolia. Apalagi kalau menu tersebut tradisional dan harus meramu sendiri bumbu nya. Setengah mati deh minta diterangin gimana cara buat bumbu-nya. Pada akhirnya saya cuma minta tolong dibutin yang spicy dengan ngomong “hot .. hot .. hot” sambil mengibas2kan tangan ke mulut.
Makanan tradisional di sini didominasi oleh daging domba, pork, beef dan telur. Tetapi saya akui, rasanya cukup enak buat saya. Terutama apabila dimasak agak pedas. Ada salah satu restoran bernama “Mongolian Barbeque” di Ulan Bator, di atas pub bernama “Detroit Pub” yang menurut selera saya cukup enak.
Jadi yang perlu anda lakukan hanya samperin dimana masing2 daging itu disajikan di meja tertutup kaca. Tinggal ambil daging dan sayuran yang anda suka, kemudian pilih bumbunya. Tips untuk memilih bumbu bagi orang yang awam dengan bumbu a la Mongolia, minta tolong untuk diracikkan. Memang akan terkendala dengan bahasa, tetapi lebih baik begitu karena saya di hari pertama sempat meracik bumbu sendiri yang rasanya luar biasa asin :p
Setelah anda selesai memilihnya, berikan pilihan anda ke petugas bagian memasaknya (bagian memanggang tepatnya). Dia akan memasak pilihan anda termasuk dengan bumbunya. Begitu selesai anda akan dipanggil dan wholaaa… makanan penuh kolesterol nan nikmat siap disantap
Kota Ulan Bator (UlaanBaatar) sehari2nya cukup sibuk, bahka tidak jarang cukup macet walaupun tidak semacet Jakarta yang bisa berkilo2 panjangnya. Bagi saya orang Jakarta yang luar biasa itu, ternyata menyeberang jalan di jalanan Ulan Bator itu cukup sulit. Kalau di Jakarta, ketika kita mau menyeberang jalan maka mobil2 yang sudah melihat dari jauh akan cenderung melambat dan memberi jalan buat kita pejalan kaki (meskipun kadang2 ada juga orang brengsek yang malah ngebut). Tetapi di Ulan Bator, mobil2 itu tidak pernah mengurangi kecepatan. Tetap saja injak gas seakan2 kami ini hantu yang tidak terlihat yang mau menyeberang jalan. Beberapa kali saya melihat ada penyeberang jalan yang teriak2 marah ke mobil2 itu karena hampir ditabrak.
Begitu juga dengan cara mereka menyetir, klakson sama riuh rendahnya dengan Jakarta, tetapi di sini ditambahin dengan decitan rem mobil yang cukup berisik. Entah apa yang ada dipikiran para pengemudi itu, padahal mereka sudah tahu ada tikungan cukup tajam tetap saja mereka tidak mengurangi kecepatan secara gradual, tetapi langsung banting setir untuk menukik ke kanan atau ke kiri. Otomatis roda berdecit. Belum lagi kalau ada mobil lain di depan atau penyeberang jalan, mereka akan mati2an nginjek rem. Pasti muntah kalau saya jadi penumpangnya.
Bagimana dengan wanita2 Ulan Bator? Cakep2 kah? sebagai pria saya harus mengangkat topik ini (he he he he). Saat ini saya sedang mengetik blog ini di suatu cafe di Shopping Center bernama “The Galeria Shopping Plaza”. Sebuah shopping center yang lumayan bagus menurut saya dibandingkan dengan kebanyakan lainnya. Kata teman saya yang hang out di sini rata2 kalangan punya uang (middle up). Saya melihat cewek2 di sini lebih modis memang di bandingkan di shopping mall lainnya.
Di Ulan Bator, sekilas saya lihat sesuai dengan selera saya, mereka cukup modis. Tetapi yang dikatakan cantik menurut saya kira2 hanya 30% dari total populasi wanita yang saya temui di sini. Wanita2 mudanya cenderung bertubuh ramping dengan wajah seperti orang china, tetapi banyak sekali yang khas mongol (sipit sekali, dengan pipi merah, tulang pipi dan bibir yang khas). Kurang sesuai dengan selera saya, wanita2 di Indonesia jauh lebih cantik dibanding mereka baik secara wajah dan warna kulit. Memang beberapa kali saya bertemu dengan wanita2 yang cukup cantik dan cerdas di waktu saya meeting/presentasi, tetapi kalau diberi score antara 1 – 10, maka sama2 memiliki score 9 dengan wanita Indonesia yang saya kenal tetapi saya tetap merasa wanita Indonesia kita lebih cantik, menyenangkan dan secara sexual menarik sekali
Bagi anda yang sedang merencanakan backpacking ke sini, please try.. so interesting. Bagi anda yang ber-budget cukup sedang berpikir menjadikan Mongolia sebagai salah satu pilihan wisata, sebaiknya anda pikirkan ulang, sebaiknya anda ke China atau Eropa saja daripada kesini. Tetapi untuk Backpacker dengan mental yang lebih berani dan limited budget, di sini banyak hal yang bisa dilihat. Di mana posisi saya sekarang, antara backpacker dan business traveller










Comments