Author Archive

27 Apr 2011 Sex is like riding a bike

1. You have to keep pumping if you want to get anywhere.

2. Its best to wear protective head-gear when going into unfamiliar territory.

3. You can do it with no hands, but its best not to try it until you have a lot of experience.

4. Its easier to learn with the help of someone who has a lot of experience.

5. You can do it by yourself, but its usually not as much fun.

6. Its usually hard to control your speed the first few times you try.

7. Its best to have a soft place to land.

8. You dont need any special clothing, but you can get some if you are really into it.

9. If youre with someone who is having trouble keeping up, its usually best to slow down and wait for them.

10. Most people think it looks easy until they try it for the first time.

11. Once you learn, you never forget how.

12. If you fall off get right back on.

13. If you get a flat, try pumping it back up.

14. Remember to signal before you change direction.

15. Make sure that you’ve got a firm grip.

16. Sometimes its nice to have a cushy seat.

17. Once youre over the top, you can just coast the rest of the way.

18. That’s why some of them are called Mountin Bikes.

07 Apr 2011 Trip to Beijing, China – Transfer Time

Sebenarnya ini bukan suatu trip khusus ke China, tapi cuma sekedar ke down town Beijing selagi nunggu pesawat yg akan mengantar saya ke singapore malam ini. Siapa tahu berguna buat anda yg terjebak transit lumayan lama di Beijing. Yupe, saya sedang transit pesawat yang membawa saya pulang dari Mongolia menuju Singapura di Beijing Capital International Airport (BCIA)

Karena ide ke downtown ini terlintas mendadak maka dengan sedikit rush (baca: tabrak sana tabrak sini) saya minta visa sementara yg berlaku harian ke petugas imigrasi China. Saat ini kami tidak punya persiapan khusus, terutama tentang tujuan pasti di downtown Beijing nanti. Jadi saya perlu peta untuk memutuskan mau kemananya.

Berpindah dari Beijing Tourism Information satu ke yang lainnya di dalam gedung terminal 3, tapi tidak ada satupun yg punya peta Beijing. Agak ironis di airport sebesar BCIA ini. Untungnya ada satu petugas yg menunjukkan kepada kami, satu tourism information center di sisi luar yg mempunyai peta yg saya cari itu.

Begitu mendapatkan peta, yang langsung terlihat nama tempat yang layak untuk dijadikan sasaran kunjungan mendadak ini adalah Monumen Tian’anmen dan Forbidden City. Kebetulan di Tourist and Traffic Map Of Urban Beijing yang saya dapat, di sisi atas (utara) dari Forbiden City ada Imperial Food Restaurant. Kebetulan sudah sangat lapar saat itu :) Sebenarnya di luar 2 tempat di atas, masih banyak tempat lain yang bisa anda kunjungi dengan akses menggunakan kendaraan umum yang sangat mudah. Tetapi karena total waktu saya untuk transit hanya 8 jam-an, maka saya putuskan untuk saat ini hanya mengunjungi 2 lokasi itu saja.

Untuk menuju Tian’anmen dan Forbidden City, dari terminal 3 BCIA, saya menggunakan bus airport shuttle dengan tujuan Xidan. Dari Xidan nanti hanya perlu jalan kaki yang kira2 waktu itu saya tempuh dalam waktu 20 menitan. Dari Airport ke Xidan sendiri untuk traffic yang ramai tapi lancar memerlukan waktu kurang lebih 1 jam saja. Saya agak beruntung waktu itu karena cuaca sangat nyaman, suhu di kisaran 10 – 15 derajat celcius dan matahari tidak terik tetapi langit sangat cerah.

Pesawat saya ke Singapura akan boarding jam 11:45 malam ini, jadi saya perkirakan jam 08:00 malam ini saya sudah harus jalan dari xidan menggunakan bus Airport Shuttle. Petugas counter check in SQ (Singapore Airlines) yang saya tumpangi juga menganjurkan yang sama, karena traffic di Beijing kadang2 suka sangat padat.

Singkat kata saya sudah sampai ke Tian’anmen. Di sore hari yang bukan weekend, lapangan dan sekitarnya bisa dikatakan sangat ramai. Saya tidak tahu apakah mereka sedang demo atau tidak saat itu, tetapi yang jelas banyak sekali orang yang berkumpul di sana saat itu.

Tian’anmen Square mengingatkan saya akan Tank-man. Seorang demonstran yang berani menghadang sederetan tank yang mau mengusir demonstran di sekitar Tian’anmen Square pada tahun 1989. Lokasi incident ini sendiri berada di koordinat 39°54’23.5”N 116°23’59.8”E. Silahkan simpan di GPS dan ambil foto di sana kalau anda suka :)

Sayang karena terburu-buru dan sudah terlalu sore kami tidak bisa masuk ke Forbidden City, loket masuk sudah tutup. Mudah2an next visit ke Beijing saya bisa melihatnya dan mengambil beberapa gambar di sana.

Sekitar jam 7:30, setelah foto sana dan sini, say hi ke beberapa orang yang kami temui (terutama para wanita cantiknya :p) kamipun kembali ke tempat Airport Shuttle Bus menurunkan kami dari Airport. Ternyata lokasi menaikkan penumpang dari Xidan menuju Airport (BCIA) berbeda dengan lokasi kami turun. Jadi jangan sampai kecele. Lokasi di Xidan berupa sebuah pool shuttle bus yang berada di dekat Beijing Books Building.

Sebenarnya utk ke arah airport saya ingin mencoba melalui kereta subway beijing. Tetapi teman saya tidak berani ambil resiko terlambat karena nyasar. Padahal menurut saya, peta subway jauh lebih jelas dan pasti, termasuk penamaan stasiun pemberhentiannya. Tidak seperti bis yg bisa tidak konsisten. Walaupun, kadang jg ragu2 apakah semua stasiun pemberhentiannya akan diberi nama menggunakan huruf latin selain china.

Jangan lupa, kalau tujuan anda ke singapore atau jakarta, anda menuju ke terminal 3 BCIA. Kalaupun salah turun di terminal 1 atau 2, anda bisa ambil shuttle bus ke terminal 3 BCIA tanpa bayar. Have a nice trip, happy visiting Beijing.

06 Apr 2011 Trip to Mongolia – Susahnya menyeberang jalan

Sekarang sudah hari kedua-setengah di Ulan Bator, Mongolia. Kota yang tidak terlalu besar tetapi lampunya indah di malam hari ketika saya lihat dari lt 12 hotel saya.

Selama di sini suhu udara di awal bulan April sekitar -8 sampai dengan 12 derajat celcius. Untung ketika siang hari di mana saya banyak berjalan kaki di jalanan, suku berkisar antara 1 – 8 derajat, jadi tidak terlalu dingin.

Seperti yang sudah saya duga sebelumnya, orang mongolia sangat jarang yang menguasai bahasa inggris. Tetapi presentasi saya 2 hari ini lumayan lancar, meskipun sempat terpikir saya akan mengalami masalah bahasa dengan mereka. Memang ada masalah bahasa tetapi tidak significant.

Soal bahasa ini sangat terasa ketika saya harus makan siang atau malam tanpa ditemani oleh teman2 saya dari Mongolia. Apalagi kalau menu tersebut tradisional dan harus meramu sendiri bumbu nya. Setengah mati deh minta diterangin gimana cara buat bumbu-nya. Pada akhirnya saya cuma minta tolong dibutin yang spicy dengan ngomong “hot .. hot .. hot” sambil mengibas2kan tangan ke mulut.

Makanan tradisional di sini didominasi oleh daging domba, pork, beef dan telur. Tetapi saya akui, rasanya cukup enak buat saya. Terutama apabila dimasak agak pedas. Ada salah satu restoran bernama “Mongolian Barbeque” di Ulan Bator, di atas pub bernama “Detroit Pub” yang menurut selera saya cukup enak.

Jadi yang perlu anda lakukan hanya samperin dimana masing2 daging itu disajikan di meja tertutup kaca. Tinggal ambil daging dan sayuran yang anda suka, kemudian pilih bumbunya. Tips untuk memilih bumbu bagi orang yang awam dengan bumbu a la Mongolia, minta tolong untuk diracikkan. Memang akan terkendala dengan bahasa, tetapi lebih baik begitu karena saya di hari pertama sempat meracik bumbu sendiri yang rasanya luar biasa asin :p

Setelah anda selesai memilihnya, berikan pilihan anda ke petugas bagian memasaknya (bagian memanggang tepatnya). Dia akan memasak pilihan anda termasuk dengan bumbunya. Begitu selesai anda akan dipanggil dan wholaaa… makanan penuh kolesterol nan nikmat siap disantap :)

Kota Ulan Bator (UlaanBaatar) sehari2nya cukup sibuk, bahka tidak jarang cukup macet walaupun tidak semacet Jakarta yang bisa berkilo2 panjangnya. Bagi saya orang Jakarta yang luar biasa itu, ternyata menyeberang jalan di jalanan Ulan Bator itu cukup sulit. Kalau di Jakarta, ketika kita mau menyeberang jalan maka mobil2 yang sudah melihat dari jauh akan cenderung melambat dan memberi jalan buat kita pejalan kaki (meskipun kadang2 ada juga orang brengsek yang malah ngebut). Tetapi di Ulan Bator, mobil2 itu tidak pernah mengurangi kecepatan. Tetap saja injak gas seakan2 kami ini hantu yang tidak terlihat yang mau menyeberang jalan. Beberapa kali saya melihat ada penyeberang jalan yang teriak2 marah ke mobil2 itu karena hampir ditabrak.

Begitu juga dengan cara mereka menyetir, klakson sama riuh rendahnya dengan Jakarta, tetapi di sini ditambahin dengan decitan rem mobil yang cukup berisik. Entah apa yang ada dipikiran para pengemudi itu, padahal mereka sudah tahu ada tikungan cukup tajam tetap saja mereka tidak mengurangi kecepatan secara gradual, tetapi langsung banting setir untuk menukik ke kanan atau ke kiri. Otomatis roda berdecit. Belum lagi kalau ada mobil lain di depan atau penyeberang jalan, mereka akan mati2an nginjek rem. Pasti muntah kalau saya jadi penumpangnya.

Bagimana dengan wanita2 Ulan Bator? Cakep2 kah? sebagai pria saya harus mengangkat topik ini (he he he he). Saat ini saya  sedang mengetik blog ini di suatu cafe di Shopping Center bernama “The Galeria Shopping Plaza”. Sebuah shopping center yang lumayan bagus menurut saya dibandingkan dengan kebanyakan lainnya. Kata teman saya yang hang out di sini rata2 kalangan punya uang (middle up). Saya melihat cewek2 di sini lebih modis memang di bandingkan di shopping mall lainnya.

Di Ulan Bator, sekilas saya lihat sesuai dengan selera saya, mereka cukup modis. Tetapi yang dikatakan cantik menurut saya kira2 hanya 30% dari total populasi wanita yang saya temui di sini. Wanita2 mudanya cenderung bertubuh ramping dengan wajah seperti orang china, tetapi banyak sekali yang khas mongol (sipit sekali, dengan pipi merah, tulang pipi dan bibir yang khas). Kurang sesuai dengan selera saya, wanita2 di Indonesia jauh lebih cantik dibanding mereka baik secara wajah dan warna kulit. Memang beberapa kali saya bertemu dengan wanita2 yang cukup cantik dan cerdas di waktu saya meeting/presentasi, tetapi kalau diberi score antara 1 – 10, maka sama2 memiliki score 9 dengan wanita Indonesia yang saya kenal tetapi saya tetap merasa wanita Indonesia kita lebih cantik, menyenangkan dan secara sexual menarik sekali :)

Bagi anda yang sedang merencanakan backpacking ke sini, please try.. so interesting. Bagi anda yang ber-budget cukup sedang berpikir menjadikan Mongolia sebagai salah satu pilihan wisata, sebaiknya anda pikirkan ulang, sebaiknya anda ke China atau Eropa saja daripada kesini. Tetapi untuk Backpacker dengan mental yang lebih berani dan limited budget, di sini banyak hal yang bisa dilihat. Di mana posisi saya sekarang, antara backpacker dan business traveller :)

02 Apr 2011 Trip to Mongolia – Visa Mongolia

 

Sepertinya masih baru saja pulang dari Eropa, saya harus segera pergi keluar negeri lagi untuk keperluan bisnis kantor. Kali ini tujuannya adalah negara yang jarang dijadikan target kunjungan oleh orang Indonesia, yaitu Mongolia. Saya ke Mongolia untuk melakukan beberapa sales presentation di depan sebuah perusahaan telekomunikasi besar di sana, kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi perusahaan2 partner dan teman2 yang saya kenal waktu meeting di Korea beberapa bulan yang lalu (posting tentang perjalanan Korea saya bisa anda lihat di blog ini juga).

Yang lagi2 cukup menjadi isu dalam persiapan perjalan saya ke Mongolia ini adalah visa-nya. Rencananya saya ke Mongolia kira-kira 2 minggu yang lalu. Tetapi ternyata mengurus visa Mongolia lebih susah dari perkiraan.

Diawali dengan di bantu oleh agent perjalanan dan juga perusahaan yang akan saya kunjungi di Mongolia, saya mempersiapkan semua dokumen standart yang dibutuhkan. Sebenarnya kami saat itu tidak tahu apa saja yang harus dipersiapkan, tetapi standart biasanya untuk visa memerlukan:

1. Kartu Tanda Penduduk asli dan foto kopinya. Seperti di posting saya tentang perjalan ke Eropa saya, KTP saya masih belum saya perpanjang. Jadi otomatis saya tidak bisa menyediakan KTP, sebagai gantinya saya berikan SIM saya.

2. Kartu Keluarga asli dan foto kopinya.

3. Pas Foto ukuran 4×6 berwarna dengan fokus wajah. Saya menggunakan sisa foto untuk visa Schengen saya dengan background putih.

4. Buku nikah asli.

5. Surat undangan dari perusahaan yang saya tuju.

Singkat kata akhirnya semua dokumen itu sudah saya submit ke kantor representative consulate Mongolia di Indonesia. Oh iya, untuk mengetahui alamat consulate Mongolia di Indonesia dan beberapa negara bisa dilihat di sini:

http://www.mfat.gov.mn/index.php?option=com_content&view=article&id=467&Itemid=112&lang=en

Dari PIC (Person In Charge) yang ada di Indonesia, ternyata masih ada 1 dokumen penentu yang dibutuhkan. Apabila dokumen itu sudah diterima oleh PIC consulate tersebut maka visa bisa keluar dalam waktu kurang dari 1 hari (saya waktu itu dijanjikan 2 jam saja). Dokumen tersebut ada approval dari Foreign Affair of Mongolia (seperti Kementerian Luar Negeri Mongolia, CMIIW).

Tanpa membuang banyak waktu, segera saja kami kontak ke Foreign Affairs of Mongolia dengan dibantu oleh perusahaan tujuan kami ke sana. Sungguh mengecewakan, untuk bisa mengeluarkan approval itu, mereka memerlukan waktu 14 hari kerja dari diterimanya permohonan kami. Semua jadwal presentasi dan roadshow yang sudah kami susun terpaksa direschedule.

2 minggu kemudian (tepatnya 15 hari) approval dari Mongolia diterima oleh perusahaan tujuan saya kesana dan langsung dikirimkan ke Consulate Mongolia yang ada di Indonesia cc kami. Sesuai janjinya, dalam waktu 1 hari visa selesai.

Akhirnya, visa sudah saya terima per hari ini. Terima kasih kepada teman2 GA kantor saya, tiket pesawat dan hotel bisa disiapkan dengan sekejap mata. Minggu tanggal 3 April 2011 ini saya berangkat ke Ulan Bator, Mongolia.

By the way, delay ini bagaimanapun ada sisi positifnya buat saya. 2-3 minggu yang lalu di bulan Februari – Maret, suhu udara di Mongolia masih di kisaran antara -15 s/d -5 derajat celcius. Hari ini saya lihat sudah -8 s/d 0 derajat celcius. Memang masih di bawah 0 derajat celcius, jauh di bawah temperatur Jakarta, tetapi lebih merasa nyaman seharusnya :)

Well, Wish me luck! Doakan presentasi saya sukses dan bisa deal business yang luar biasa besar!!!