Ketika mem-paste cerita di posting saya sebelumnya saya kemudian teringat masa kecil saya.
Begini ceritanya. Ada seorang guru matematika di kelas saya. Dia orangnya imut dan kecil dan terutama menurut saya cantik sekali. Banyak teman2 saya yang sependapat dengan saya. Kebetulan matematika adalah pelajaran favorit saya, menerima pujian adalah hal yang biasa buat saya. Tetapi dalam konteks pendekatan “birahi”, maaf, “cinta” maksud saya. Saya kurang beruntung. Justru teman2 saya yang bandel dan “bodoh” di matematika lah yang beruntung.
Di suatu semester, saya mendapatkan teman bangku yang sangat bandel, berani, nekat tapi menurut saya “kurang cerdas”. Jangankan matematika, bahasa indonesia dia jeblok (tapi anehnya nilai dia di pelajaran agama bagus lho). Sering sekali dia tidak mengerjakan PR matematika dia, sehingga sering dipanggil ke depan dan diomel2in ibu guru cantik saya itu. Tapi bukannya kapok, dia malah senang sekali. Bukannya dia malah menunduk menyesal, dia malah memandang wajah ibu guru cantik itu. Hidung ama bibirnya sangat serasi katanya. Senyum dan cemberutnya sama2 indah.
Sialan bener nih temen saya. Saya sudah berusaha mati2an supaya menjadi yang terbaik, mendekati ibu itu secara khusus saja tidak pernah kesampaian tapi temen sialan saya tadi itu malah berkesempatan berdekatan berkali-kali.
Ingin rasanya saya menuliskan beribu-ribu surat cinta supaya ibu itu tahu bagaimana perasaan saya, tapi tentu saja saya tidak punya nyali. Terlebih dari itu saya tidak ingin merusak reputasi saya sebagai seorang “murid yang baik”. Siang malam hati saya selalu kacau. Setiap di hari Senin, Rabu, Kamis dan Jumat saya selalu bangung lebih pagi karena di hari itu ada pelajaran matematika dan selalu diakhir hari saya akhiri dengan rasa berbunga-bunga karena melihat ibu itu sekaligus rasa kecewa karena tidak bisa jadi pacarnya.
Sampai suatu hari saya sampai pada kesimpulan bahwa saya harus menjadi sedikit nakal dan agresif supaya bisa mendapatkan waktu untuk berduaan dengan dia (meskipun mungkin tidak dalam kondisi yang baik pertemuan berdua kami itu nanti jadinya). Jadilah suatu saat saya tidak mengerjakan PR. Dipanggillah saya kedepan, tapi bukan diomel2in. Cuma disuruh mengerjakan di papan. Sialnya, PR itu ternyata mudah jadi bisa langsung saya kerjakan di papan tulis.. duh, gak jadi berduaan deh :p. Ternyata murid dengan reputasi seperti saya sangat sulit untuk dihukum. Ibu Guru saya nan cantik jelita itu hanya menganggap saya lupa mengerjakan PR saya tetapi saya pasti bisa mengerjakannya.
Begitulah kehidupan cinta tak bersambut saya dulu. Tentu saja itu hanya cinta monyet. Seandainya saya jadi menyatakan cinta saya (yang tidak pernah kejadian), paling2 si Ibu Guru saya hanya menganggap lucu saja dan mengabaikannya.
Anyway, saya melihat hal ini ternyata berlaku di sekitar kita. Bagaimana orang2 hebat & jenius mendapatkan pasangan yang biasa2 atau di bawah standar dia seharusnya karena dia stuck dengan reputasi dia. Orang2 ini kurang berani “agresif” dan “bandel”. Kurang berani lepas dari apa adanya dia.
* Setelah saya “sukses” (he he he, kayak apa tuh suksesnya), saya sempat untuk mengunjungi beliau. Si ibu guru masih cantik dan ayu, sudah mempunyai 2 anak. Tidak ada lagi rasa cinta yang membara, hanya perasaan hutang budi yang luar biasa karena beliau sudah membuat saya jadi seperti sekarang. Makasih bu.

Wednesday, 22. April 2009
MAJUUUU JALAN!!!!! SIAP TEMPUR!!!!! (walau kirain saya sudah cukup nakal…Hehehe)
Wednesday, 22. April 2009
“Nakal”-nya yang dewasa ya di.. jangan “Nakal Ngawur” ntar kamu jadi menjelekan diri sendiri.
Saturday, 26. December 2009
Pak, sekali lagi saya dibilang “best friend material” nih oleh wanita yg aku sukai. Terus teringat cerita ini deh. Gimana ya, biar bisa sedikit nakal?
Saturday, 26. December 2009
Wah, di. Jangan salah paham dengan nakal yah?! Belum tentu nakal orang lain applicable ke kamu. Mending kamu cari gaya sendiri yang lebih cocok. Lebih dewasa, matang, cool dan gak nerd misalnya
saya sendiri bukan jagoan dalam hal ini loh. Btw, jodoh sudah ditentukan, don’t worry.