Archive for ◊ April, 2009 ◊

27 Apr 2009 Kaca Spion – Story dari Andi F Noya

Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta .

Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana .

Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan.
Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler.

Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu.

Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul.

Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama.

Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda?
Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri.

Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.

Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro.

Ini tempat favorit saya.

Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia.

Biasanya satu sampai dua jam saya di sana .

Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati.

Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang.
Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar.

Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero
Jakarta . Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong.

Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi.

Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia .

Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia.

Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA.

Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.
Sampai suatu hari, kerinduan itu datang.

Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu.

Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah.

Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut.

Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri.

Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan
punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah.

Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.
Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya .

Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya.

Waktu itu umur saya sembilan tahun.

Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola.

Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah.
Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang.

Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti.

Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.

Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca.

Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. D

engan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu.

Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar.
Rupanya sang pemilik mobil datang.

Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya.

Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.
Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya.

Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar.

Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju.

Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu.

Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. D

engan penghasilan dari menjahit itulah kami – ibu, dua kakak, dan saya – harus bisa bertahan hidup sebulan.
Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut.

Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang.

Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu.

Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan.

Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya?

Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?

Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba.

Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal.

Saya benci orang kaya.
Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah.

Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya.
Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya.
Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan.

Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari.

Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.
Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah.

Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan.

Mereka tidak punya hati nurani.
Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat,

saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah.

Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti.

Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ”Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah.

Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. D

ulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan.

Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak.

Citarasamu sudah meningkat,” ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan,

“Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras.”
Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu.

Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat.

Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah.

Saya takut perasaan saya tidak lagi sensitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa.

Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.
Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif.

Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak.
Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam
kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang.

Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab.

Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah.

Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya.

Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh.

Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi.
Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok.
Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas.

Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion.

Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung.

Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya.

Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi.
Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh.

Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya.
Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu.

Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.
Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka.

Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan.

Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian.

Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.

22 Apr 2009 Kompetisi mendapatkan cinta

Ketika mem-paste cerita di posting saya sebelumnya saya kemudian teringat masa kecil saya.

Begini ceritanya. Ada seorang guru matematika di kelas saya. Dia orangnya imut dan kecil dan terutama menurut saya cantik sekali. Banyak teman2 saya yang sependapat dengan saya. Kebetulan matematika adalah pelajaran favorit saya, menerima pujian adalah hal yang biasa buat saya. Tetapi dalam konteks pendekatan “birahi”, maaf, “cinta” maksud saya. Saya kurang beruntung. Justru teman2 saya yang bandel dan “bodoh” di matematika lah yang beruntung.

Di suatu semester, saya mendapatkan teman bangku yang sangat bandel, berani, nekat tapi menurut saya “kurang cerdas”. Jangankan matematika, bahasa indonesia dia jeblok (tapi anehnya nilai dia di pelajaran agama bagus lho). Sering sekali dia tidak mengerjakan PR matematika dia, sehingga sering dipanggil ke depan dan diomel2in ibu guru cantik saya itu. Tapi bukannya kapok, dia malah senang sekali. Bukannya dia malah menunduk menyesal, dia malah memandang wajah ibu guru cantik itu. Hidung ama bibirnya sangat serasi katanya. Senyum dan cemberutnya sama2 indah.

Sialan bener nih temen saya. Saya sudah berusaha mati2an supaya menjadi yang terbaik, mendekati ibu itu secara khusus saja tidak pernah kesampaian tapi temen sialan saya tadi itu malah berkesempatan berdekatan berkali-kali.

Ingin rasanya saya menuliskan beribu-ribu surat cinta supaya ibu itu tahu bagaimana perasaan saya, tapi tentu saja saya tidak punya nyali. Terlebih dari itu saya tidak ingin merusak reputasi saya sebagai seorang “murid yang baik”. Siang malam hati saya selalu kacau. Setiap di hari Senin, Rabu, Kamis dan Jumat saya selalu bangung lebih pagi karena di hari itu ada pelajaran matematika dan selalu diakhir hari saya akhiri dengan rasa berbunga-bunga karena melihat ibu itu sekaligus rasa kecewa karena tidak bisa jadi pacarnya.

Sampai suatu hari saya sampai pada kesimpulan bahwa saya harus menjadi sedikit nakal dan agresif supaya bisa mendapatkan waktu untuk berduaan dengan dia (meskipun mungkin tidak dalam kondisi yang baik pertemuan berdua kami itu nanti jadinya). Jadilah suatu saat saya tidak mengerjakan PR. Dipanggillah saya kedepan, tapi bukan diomel2in. Cuma disuruh mengerjakan di papan. Sialnya, PR itu ternyata mudah jadi bisa langsung saya kerjakan di papan tulis.. duh, gak jadi berduaan deh :p. Ternyata murid dengan reputasi seperti saya sangat sulit untuk dihukum. Ibu Guru saya nan cantik jelita itu hanya menganggap saya lupa mengerjakan PR saya tetapi saya pasti bisa mengerjakannya.

Begitulah kehidupan cinta tak bersambut saya dulu. Tentu saja itu hanya cinta monyet. Seandainya saya jadi menyatakan cinta saya (yang tidak pernah kejadian), paling2 si Ibu Guru saya hanya menganggap lucu saja dan mengabaikannya.

Anyway, saya melihat hal ini ternyata berlaku di sekitar kita. Bagaimana orang2 hebat & jenius mendapatkan pasangan yang biasa2 atau di bawah standar dia seharusnya karena dia stuck dengan reputasi dia. Orang2 ini kurang berani “agresif” dan “bandel”. Kurang berani lepas dari apa adanya dia.

* Setelah saya “sukses” (he he he, kayak apa tuh suksesnya), saya sempat untuk mengunjungi beliau. Si ibu guru masih cantik dan ayu, sudah mempunyai 2 anak. Tidak ada lagi rasa cinta yang membara, hanya perasaan hutang budi yang luar biasa karena beliau sudah membuat saya jadi seperti sekarang. Makasih bu.

22 Apr 2009 Murid jatuh cinta kepada Ibu Guru

Ibu guru perhatikan akhir-akhir ini si kecil Joni menurun prestasinya. Suatu hari seusai jam sekolah diapun mengajan Joni bicara.

“Ibu perhatikan akhir-akhir ini nilaimu menurun. Ada apa?”

Si kecil Joni menjawab, “Saya lagi jatuh cinta Bu Guru”

“Sama siapa?”

“Sama bu Guru”, jawabnya dengan wajah memerah. Bu guru memang orangnya cantik.

Kelihatannya bu guru tidak asing dengan sikap murid semacam ini. Diapun menjawab dengan lembut, “Joni, kamu tau itu nggak mungkin. Memang Ibu sendiri suatu saat akan punya suami, tapi Ibu tidak menginginkan seorang anak kecil”

“Oh, soal itu Ibu nggak usah kuatir”, sahut Joni dengan nada mantap, “Saya akan pake kondom”

20 Apr 2009 The Key Major to Better Future is You

The major key to get our better future is ourself. Lock our mind onto that. This is a super important point to remember. The major key is we. Mr. Shoaff always answered when asked; “How do we develop an above average income?” by saying “Simple; become an above average person. Work on we.” Mr. Shoaff would say; “Develop an above average handshake.”

He would say; “A lot of people want to be successful; and they don’t even work on their handshake. As easy as that would be to start; they let this slide. They don’t understand.” Mr. Shoaff would say; “Develop an above average smile.

Develop an above average dedication. Develop an above average excitement. Develop an above average interest in other people.” He would say; “To have more; become more.” Remember; work harder on ourself than we do on our job. For a long time in my life; I did not have this figured out.

Strangely enough; with two different people in the same company one may earn an extra $100 a month; and the other may earn a $1;000. What could possibly be the difference? If the products were the same; if the training was the same; if they both had the same literature; the same tools.

If they both had the same teacher; the same compensation plan; if they both attended the same meetings; why would one person earn the $100 per month and the other person earn the $1000? Remember here is the difference…the difference is personal; inside; not outside; inside.

You see the real difference is inside we. In fact; the difference IS we. Someone once said; “The magic is not in the products. The magic is not in the literature. The magic is not in the film. There isn’t a magic meeting; but the magic that makes things better is inside we; and personal growth makes this magic work for we.

The magic is in believing. The magic is in daring. The magic is in trying. The real magic is in persevering. The magic is in accepting. It’s in working. The magic is in thinking. There is magic in a handshake. There is magic in a smile. There is magic in excitement and determination.

There is real magic in compassion and caring and sharing. There is unusual magic in strong feeling and we see; all that comes from inside; not outside. So; the difference is inside we. The real difference is we. You are the major key to our better future.

All Of things that can have an effect on our future; I believe personal growth is the greatest. We can talk about sales growth; profit growth; asset growth; but all of this probably will not happen without personal growth.

It is really the open door to this all. In fact I’d like to have we memorize a most important phrase. Here this is; “The major key to our better future is WE.”
Let me repeat that. “The Key Major to Better Future is You” Put that someplace we can see this everyday; in the bathroom; in the kitchen; at the office; anywhere where we can see this everyday. The major key to our better future is WE. Try to remember that every day we live and think about this. The major key is WE.

Now; there are many things that will help our better future. If we belong to a strong; dynamic and progressive company; that would help. If the company has good products; good services that we are proud of; that would certainly help. If there were good sales aids; that would help; good training would certainly help.

If there is strong leadership that will certainly help. All of these things will help; and of course; if this doesn’t storm; that will help. If our car doesn’t break down; that will help. If the kids don’t get sick; that will help. If the neighbors stay half way civil; that will help. If our relatives don’t bug we; that will help.

If this isn’t too cold; if this isn’t too hot; all those things will help our better future. And if prices don’t go much higher and if taxes don’t get much heavier; that will help. And if the economy stays stable; those things will all help. We could go on and on with the list; but remember this; the list of things that I’ve just covered and many more -all put together- play a minor role in our better future.

To Your Success;
Jim Rohn