Saat ini saya sedang “sibuk” menidurkan anak saya yang pertama. Sudah beberapa menit berlalu (selama seper-empat cerita Kancil Nyolong Timun) dan dia baru saja terlelap dengan posisi favoritnya (nungging). Memang baru jam 7:15 malam, tapi dia sudah cape seharian bermain-main dengan anak2 tetangga, juga tadi keponakan sempat berkunjung.
Waktu beberapa menit ini terasa sangat bermakna buat saya. Saya merasa lebih dekat dengan anak saya dalam kondisi “tenang” (biasanya penuh hiruk pikuk dan sibuk mengejar dia kesana kemari.). Mulai menenangkan dia supaya tidak rewel, kemudian melihat dia diam berguling-guling mencari posisi tidur yang pas, sampai akhirnya tertidur pulas.
Supaya cepat tidur, saya coba nyanyikan lagu kesukaan ibu saya yang mungkin berjudul “lela ledhung”. Liriknya kira2 seperti ini: tak lela lela lela ledhung.. cup menengo putroku sing bagus.. mengko gek ilang bagus’e.. dan seterusnya. Saya ingat bagaimana ibu saya dulu sangat bagus menyanyikan lagu ini. Saya suka dengan suaranya yang terdengar merdu dan hangat. Sungguh rindu saya padanya. Rupanya saya belum seahli ibu saya, terbukti bukan makin lelap anak saya, malah makin panik kesulitan tidur karena suara saya.
Kemudian, saya mencoba memancing cerita ke dia tentang Si Nakal Kancil yang terkenal itu. Karena anak saya baru berumur 2,5 tahun, dia masih kesulitan mencerna apa itu kancil, apa itu kebun, dan siapa itu pak Tani. Untung dia cukup kritis dengan berani bertanya balik ke saya.
Ketika saya katakan kancil, dia langsung bertanya “Kancil itu apa, pa?”. Karena di tangan ada blackberry, langsung saya browse image Kancil di Google kemudian saya tunjukkan ke dia sambil menerangkan bahwa kancil itu mirip kuda tapi jauh lebih kecil (tolong jangan bahas penjelasan saya).
Ketika saya katakana tentang timun.. untung dia tahu timun. Dia bilang kalau saya suka timun (memang saya suka makan lalapan). Mudah2an dia juga tahu kalau saya bukan Kancil. Ketika saya cerita tentang Pak Tani, dia langsung bertanya balik “Pak Tani itu apa, pa?”. “Oh, dulu ada om.. namanya Pak Tani”, jawab saya dan dia langsung paham. Begitu juga dengan Kebun Timunnya pak Tani, anak saya terlihat kebingungan membayangkan tentang istilah “Kebun”. Untung dapat tips dari istri kalau anak saya ngertinya “Taman” daripada kebun. Akhirnya istilah “kebun” saya ganti dengan “taman”.
Cerita belum sampai selesai karena tiba-tiba anak saya bangun melihat keluar jendela sambil berkata yang kira2 artinya begini: “Kancil di taman (sambil menunjuk taman bermain kompleks rumah yang ada di seberang kiri rumah kami) makan timun om..” He he he. Saya hanya bilang iya.
“Pa, bobo pa..”, katanya kemudian sambil menyambar botol susunya dan langsung tidur miring. Saya tidak melanjutkan cerita tentang om Tani lagi. Saya hanya menepuk2 pantatnya sambil melanjutkan lagu “Lela Ledhung” saya tadi yang terputus.
Saya sungguh bersyukur memiliki dia dalam hidup saya. Saya berjanji akan menjadi jauh lebih baik lagi bagi dia, adiknya dan juga ibunya. Semoga Tuhan membimbing dan melindungi kita nak. “Selamat tidur, sayang ..”
Btw, bagi yang punya lirik lengkapnya lagu “Lela Ledhung” (saya tidak tahu judul sebenarnya lho..), please share yah.

Friday, 12. March 2010
Lela Ledhung
Panembang: Waljinah
Pangripta: Markasan
Tak lela, lela, lela ledhung
cep meneng aja pijer nangis, anakku sing ayu rupane
yen nangis ndhak ilang ayune
tak gadhang bisa urip mulya
dadia wanita utama
ngluhurke asmane wong tuwa
dadia pandhekaring bangsa
Reff:
Wis, cep menenga anakku
kae mbulane ndadari
kaya buta nggegilani
lagi nggoleki cah nangis
Tak lela, lela, lela ledhung
enggal menenga ya cah ayu
tak emban slendhang bathik kawung
yen nangis mundhak ibu bingung
Friday, 12. March 2010
Pak Suwarna, comment panjenengan meniko … luar biasa. Kelingan ibu, marai nangis kangen. Matur nuwun sanget lho…